Anestesi pada Prosedur Kuretase

Prosedur kuretase atau yang sering juga disebut Dilatasi dan Kuretase (D&C) merupakan sebuah bentuk operasi kecil yang dipergunakan untuk tujuan diagnosis dan perawatan pada kondisi tertentu dimana terjadi perdarahan yang tidak normal (abnormal) dari uterus.

Untuk tujuan diagnosis, prosedur dilatasi dan kuretase dilakukan untuk:

  • Mendiagnosa penyebab perdarahan yang hebat dan tidak teratur pada rahim
  • Mendiagnosa adanya kemungkinan kanker rahim atau infeksi rahim
  • Pemeriksaan kesuburan
  • Aborsi

Saat ini, prosedur dilatasi dan kuretase “untuk tujuan diagnosis” sudah mulai ditinggalkan dan diganti dengan prosedur lain seperti penggunaan USG (Ultrasonografi).

Disisi lain, prosedur dilatasi dan kuretase masih tetap dilakukan untuk beberapa tujuan perawatan seperti:

  • Kasus keguguran dimana prosedur kuret dilakukan untuk membersihkan sisa jaringan janin dan jaringan plasenta di dalam rahim. Hal ini perlu dilakukan untuk menghentikan pendarahan, mencegah terjadinya infeksi, serta menyiapkan rahim perencanaan kehamilan selanjutnya.
  • Proses Aborsi (Bisa dilakukan di Klinik Khusus Kuret di Jakarta)
  • Menghilangkan polip rahim
  • Kondisi hamil anggur dan tidak adanya janin (blighted ovum)
  • Perawatan cervical stenosis, berupa kondisi dimana jaringan yang menghubungkan uterus dengan vagina tertutup atau mengecil.

Kebutuhan Anestesi saat Kuretase

Dilatasi dan kuretase merupakan sebuah operasi minor (kecil), walaupun begitu, prosedur ini tidak akan terlepas dari yang namanya bius atau anestesi.

anestesi bius untuk kuretase

Jenis anestesi yang dipergunakan dalam prosedur kuret sendiri akan sangat bergantung pada:

  • Tingkat urgensi dari kondisi perdarahan yang terjadi
  • Tingkat dilatasi serviks
  • Masa kehamilan. Jenis anestesi yang dipergunakan pada masa tri-semester pertama, tri-semester kedua, dan tri-semester ketiga bisa berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi pasien.
  • Riwayat kesehatan pasien
  • Pilihan dan kebutuhan dari pasien

Berdasarkan berbagai pertimbangan yang ada, jenis anestesi yang dipergunakan dalam prosedur kuretase adalah:

  • Anestesi Regional (bius lokal)

Pelaksanaan kuretasi dapat dilakukan dengan menggunakan anestesi regional berupa:

  1. Peripheral nerve block

Memiliki kemampuan untuk menghilangkan rasa sakit yang lebih baik bila dibandingkan dengan penggunaan obat sedative saja. Kekurangannya adalah tetap adanya rasa nyeri bila tidak dibarengi dengan penggunaan obat sedative.

  1. Neuraxial

Jenis anestesi ini dianggap sebagai teknik yang paling nyaman bagi para pasien. Kekurangannya adalah tetap memiliki resiko (minor) untuk mengalami efek samping berupa sakit kepala setelah efek anestesi menghilang. Selain itu, pasien harus menjalani pemulihan di rumah sakit setelah prosedur kuretase selesai.

  1. Intrauterine analgesia

Jenis anestesi ini dianggap tidak terlalu invasif. Jenis obat yang dipergunakan adalah lidocaine. Untuk mendapatkan hasil terbaik, dianjurkan untuk menggunakan jenis anestesi ini bersama-sama dengan penggunaan obat sedative.

  • Anestesi Umum (bius total)

Prosedur kuret dapat dilakukan dengan anestesi umum. Dengan anestesi umum, pasien akan kehilangan kesadaran seutuhnya dan tidak memiliki ingatan apapun tentang prosedur yang ada.

Kelebihan dari penggunaan anestesi umum pada prosedur kuretase terletak pada tingkat kenyamanan pasien yang tidak merasakan sakit sama sekali, serta proses yang bisa berjalan dengan lebih baik karena pasien tidak akan bergerak.

Kekurangan dari anestesi umum ini adalah adanya potensi permasalahan saluran udara serta kemungkinan munculnya efek samping berupa rasa mual dan muntah setelah efek anestesi memudar.

  • Monitored Anesthesia Care (MAC)

Penggunaan MAC biasanya dilakukan bersamaan dengan paracervical block.

Kelebihan dari MAC adalah pasien akan lebih cepat sadar (bila dibandingkan dengan anestesia umum), mengurangi kemungkinan munculnya efek samping berupa sakit kepala, serta mengurangi kemungkinan penggunaan alat bantu pernapasan.

Kekurangannya adalah adanya kemungkinan pasien akan bergerak-gerak selama prosedur berlangsung, serta adanya kemungkinan bahwa obat yang diberikan kurang efektif dalam menangani rasa sakit (bila dibandingkan dengan anestesi umum dan neuraxial).

Sebelum prosedur kuret dilakukan, ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan baik oleh pihak dokter ataupun pasien.

Pihak dokter akan melakukan persiapan berupa pemeriksaan kesehatan pasien. Sementara dari pihak pasien, persiapan yang perlu dilakukan adalah:

  • Berhenti merokok dan mengkonsumsi minumal beralkohol
  • Menghentikan konsumsi obat-obatan tertentu sesuai dengan anjuran dokter, baik obat kimia maupun obat herbal, mulai dari 1 hingga 2 minggu sebelum prosedur kuretase dilakukan
  • Melakukan puasa selama 12 jam (minimal) bila akan dilakukan anestesi umum dan minimal 8 jam bila akan dilakukan anestesi regional.

Leave a Reply