Sejarah Ilmu Anestesiologi

Anestesiologi merupakan salah satu cabang spesialisasi dalam ilmu kedokteran yang berhubungan erat dengan upaya untuk mengurangi rasa sakit sebelum, selama, dan setelah masa pembedahan.

Upaya untuk mengurangi dan menghilangkan rasa nyeri yang disebabkan oleh penyakit, luka, atau selama proses pembedahan berlangsung telah ada sejak jaman dahulu. Pada umumnya hal ini dilakukan dengan cara membuat seseorang kehilangan kesadaran.

Pada awalnya, teknik yang dipergunakan masih sangat kasar dan sederhana namun lama kelamaan berkembang menjadi lebih modern dan lebih nyaman bagi para pasien. Perkembangan dalam upaya menghilangkan kesadaran sang pasien (anestesi) inilah yang menjadi dasar munculnya ilmu anestesiologi.

Perkembangan Sejarah Anestesi sejak Jaman Sebelum Masehi

Perkembangan sejarah anestesi berupa upaya untuk menghilangkan kesadaran dan rasa sakit selama proses pembedahan berlangsung, ternyata dapat dilacak sejak jaman sebelum masehi. Berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat di seluruh dunia menggunakan berbagai cara yang berbeda untuk mencapai tujuan ini.

sejarah anestesiologi di indonesia

Di India, penggunaan uap ganja untuk menenangkan para pasien pembedahan telah dilakukan sejak tahun 600 SM. Selain itu, dikenal juga penggunakan berbagai jenis bahan herbal seperti Aconitum, dimana penggunaannya menyebar hingga ke negara Cina.

Teknik lain untuk menghilangkan kesadaran seseorang adalah dengan cara menekan carotid arteries di daerah leher. Berbagai jenis ramuan yang menggabungkan alkohol dengan bahan herbal seperti akar Mandrake juga umum dipergunakan di abad pertengahan. Sementara itu, upaya untuk menghilangkan rasa sakit pada lengan dan kaki dilakukan dengan cara menekan saraf tertentu, atau dengan cara menggunakan air es dan salju. Teknik lainnya seperti hipnotis dan akupuntur juga populer dipergunakan sebagai cara untuk menghilangkan rasa sakit.

Anestesi Modern

Pengetahuan mengenai anatomi tubuh manusia berkembang sangat pesat terutama pada abad ke 17 dan 18. Selain itu, ditemukan juga beberapa jenis gas seperti karbon dioksida, oksigen, dan nitrous oxide, yang nantinya akan sering dipergunakan dalam proses anestesi.

Pada tahun 1799, Sir Humphrey Davy menyarankan penggunaan Nitrous Oxide sebagai pereda rasa nyeri, berdasarkan hasil penelitian bahwa ada 2 efek akibat menghirup gas ini yaitu euforia dan analgesia. Pada tahun 1884,  Horace Wells menggunakan gas yang sama dalam melakukan pencabutan gigi.

Pada tahun 1846, William Morton (murid dari Horace Wells) mendemonstrasikan penggunaan ether sebagai bentuk anestesi. Kala itu, Morton mengangkat benjolan yang ada di leher Gilbert Abbot dengan sukses tanpa adanya rasa sakit.

Penggunaan anestesi mulai berkembang pesat. James Simpson menjadi seorang pionir dalam penggunaan anestesi untuk wanita yang sedang melahirkan, yang kemudian menggunakan chloroform sebagai pengganti ether sejak tahun 1847. Penggunaan chloroform ini semakin meluas, dimana Dr. John Snow di London menggunakannya untuk membantu Ratu Victoria dalam melahirkan Pangeran Leopold pada tahun 1853 dan Putri Beatrice pada tahun 1857.

Penemuan dalam bidang anestesi berlanjut dengan ditemukannya regional anestesia dengan menggunakan cocaine. Pada tahun 1942, penggunaan curare sebagai cara untuk membuat otot lebih relaks diperkenalkan, dan hal ini memungkinkan penggunaan anestesi dalam jumlah secukupnya saja.

Perkembangan Lembaga Anestesiologi

Istilah anestesiologi sendiri mulai diperkenalkan pada tahun 1902 oleh Dr. Mathias J. Seifert dari Chicago. Dr. Mathias memperkenalkan istilah anestesiologi dan anestesiologist. Dirinya mengatakan bahwa anestetist itu adalah seorang teknisi sementara anestesiologist adalah pihak yang memiliki wewenang dalam hal anestesia dan anestetik.

Lembaga yang menaungi para pelaku anestesia mulai bermunculan. Pada tahun 1893, lembaga bernama The London Society of Anaesthetists resmi didirikan di London. Lalu, pada tahun 1905, Dr. A. Frederick Erdmann mendirikan Long Island Society of Anesthetist (LISA) yang merupakan cikal bakal dari American Society of Anesthetists (ASA).

Pada tahun 1940, setelah berjuang selama 2 tahun, American Board of Anesthesiology (ABA) mendapatkan status independen dari American Board of Surgery. Berdirinya ABA sangat membantu dalam mendefinisikan anesthesiologi sebagai sebuah cabang atau spesialisasi khusus dalam dunia kedokteran.

Anestesiologi di Indonesia

Di Indonesia, pendidikan mengenai anestesiologi telah mulai diajarkan sejak jaman penjajahan Belanda. Kala itu, anestesiologi diajarkan sebagai bagian dari mata pelajaran ilmu bedah yang diajakan di CBZ (Central Bugerlijk Ziekenhuis) yang saat ini dikenal sebagai RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) Website : https://rscm.co.id.

Pada masa setelah kemerdekaan, Dr. Mochamad Kelan Koesoemodipuro  berangkat ke Amerika untuk mempelajari lebih lanjut mengenai anestesiologi. Sejak kepulangan beliau ke Indonesia di tahun 1954, beliau bersama rekannya bekerja keras untuk mengembangkan ilmu ini ke seluruh tanah air.

Pada tahun 1980, Konsorsium Ilmu Kedokteran memutuskan untuk memasukkan anestesiologi sebagai bagian dari kurikulum inti pendidikan dokter. Pada tanggal 1 Juni 1967 berdirilah Ikatan Ahli Anastesiologi Indonesia (IAAI) yang mempersatukan ahli anestesiologi di tanah air. Organisasi ini kemudian berubah nama menjadi Ikatan Dokter Spesialis Anastesiologi Indonesia (IDSAI) pada tahun 1988 dan kemudian berubah lagi menjadi Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) pada tahun 1998 yang bertahan hingga saat ini.

Leave a Reply